Dualisme

Desember 28, 2008
Descrate Mind and Body

Descrate Mind and Body

“Najwa Shihab punya prinsip sendiri tentang jilbab. Bagi dia, hati “berjibab” lebih baik daripada sekadar jilbab kepala.”

Maher moh.soleh ” Dalam film Indecent Proposal, ada dialog dua sejoli yang mengatakan “I slept with him, but my heart is with you!“.

Mungkin akibat ajaran dualisme pula pak kyai menjadi salah tingkah dan berkata “Hati saya di Mekkah, tapi otak saya di chicago”.

kekacauan berfikir inilah yang kemudian melahirkan istilah penjahat yang santun, koruptor yang dermawan, atheis yang baik, pelacur yang berhati bening, dan seterusnya.

Dualisme akhirnya bisa menjadi perselingkuhan intelektual. Hatinya berdzikir pada Tuhan, tapi pikiran melayang ke atas awan…

Inspired by Mr. Hamid on Epilog Jurnal Islamia

Ilustrasi ambil di Sini


Aku Gay?

Desember 22, 2008

Chatting sama teman kuliah dulu yang lagi jadi programmer java di Jakarta. Menghasilkan kesimpulan yang rada memerihatinkan. Ketika saya kabarkan saya sedang proses merajut perkenalan dengan seseorang(wanita) untuk dijadikan istri, InsyaAllah(PeDe amit).

wes normal ta kowe?“, “wedhok atau lanang?” “be’e sik pancet hombreng” itu lah sederet pernyataannya dari si teman. Gila! Aku jadi mikir, jangan-jangan teman-teman pada nganggap aku gay, ya? Asal tahu saja, saya tidak pernah bergandengan tangan, bersms mesra, nonton bioskop bareng dengan lawan jenis ataupun sesama jenis. Berduaan dengan lawan jenis, di kelas,perpus atau kantin. Diriku jauh sekali dengan urusan jagat asmara . Itu kah yang mengundang kecurigaan dari teman-taman bahwa aku Gay?

Pertanyaannya adalah: kenapa saya gak pacaran? Terus terang, bukannya aku gak punya perasaan sama cewek atau apalah, tapi emang perasaan rendah diri akut telah merasuk ke dalam sel darah merah ku sehingga mempengaruhi system tubuh ini untuk melirik atau mengungkapan “cinta” kepada gadis sangat susah untuk dilakukan.

Alasan kedua adalah karena saya nganggap berpacaran itu hanya basa-basi untuk memuaskan nafsu belaka. Dan lagi yang paling mendasar mengapa saya TIDAK BERANI berpacaran karena saya menganggap hidup saya akan gagal jika saya berpacaran. Itu yang ada di benak saya. Gay kah saya?

Dan yang harus teman-teman ketahui adalah: Cinta itu tumbuh ketika telah menikah, karena di situ kita belajar menerima segala kekurangan di samping kelebihannya. Dan di situ terjadi dialektika antara dua insan yang berbeda karakter,keinginan,kebiasaan dan lain sebagainya menjadi satu kesatuan se-iya se-kata. Kesabaran kedua belah pihak akan diuji di bawah ikatan pernikahan.

Satu hal yang harus menjadi catatan teman-teman : benarkah hubungan relasi berlainan jenis sebelum menikah itu cinta atau sekedar “cinta”?

Tulisan ini tidak bermaksud defense apalagi offense, just coretan!

Wassalam
Usamah


Peristiwa Monas dan Issu Toleransi

Juni 4, 2008

Umat Islam Indonesia, sekali lagi, menjadi sorotan mata dunia saat ini setelah beberapa hari lalu perkumpulan sekelompok yang menamai diri Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) diserang oleh anggota Front Pembela Islam (FPI). Secara langsung nampak bahwa kelompok AKKBB dirugikan, tapi sebenarnya memang itulah strategi pemenangan. Mereka ingin mendapatkan simpati seluas-luasnya, termasuk dari berbagai kalangan di luar negeri. Tidak aneh, jika Kedutaan Amerika telah mengeluarkan pernyataan mengutuk kekerasan tersebut.

Apapun cerita di balik dari peristiwa tersebut dan siapapun yang benar atau salah, pelaku atau korbannya, kekerasan adalah kekerasan yang tidak mungkin ditolerir dalam konteks sebuah negara yang berhukum. Ekspresi kebenarana dengan melakukan serangan kekerasan tidak akan mungkin bisa ditolerir selama semua pihak masih mengakui adanya otoritas dan hukum dalam institusi kenegaraan. Hal ini menjadi krusial, sebab jika semua pihak (kelompok-kelompok masyarakat) merasa membela kebenaran dan melakukan hal yang sama, maka hancurlah institusi kenegaraan yang menjadi pengikat semuanya.

Saya tidak akan pernah setuju kepada tindakan anarkis, apapun alasannya selama kita masih terikat oleh sebuah institusi. Jika ikatan institusi (hukum) tidak diakui berarti dengan sendirinya kita memisahkan diri dari ‘territory’ kenegaraan yang ada. Untuk itu, kesalahan apapun yang ada, harus dilakukan melalui jalur institusi hukum yang ada. Main hakim sendiri, walau atas nama kebenaran bisa dijuluki oleh pihak-pihak lain sebagai tindakan ‘premanisme’.

Inti permasalahan

Sebenarnya melihat kepada latar belakang peristiwa tersebut, nampak bahwa ada tiga unsur (pihak) yang terkait, yaitu pemerintah, kelompok-kelompok liberal (pembela Ahmadiyah), dan juga FPI. Menurut pengamatan saya pribadi, ketiga-tiganya secara langsung atau tidak bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Pemerintah ikut bertanggung jawab karena isu Ahmadiyah yang telah cukup lama menjadi isu panas, juga tidak kunjung diselesaikan. Padahal, sejak dua bulan terakhir sudah ada rekomendasi dari tim gabungan antara Departemen Agama, Kementrian Dalam Negeri dan Kejaksaan Agung menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah kelompok yang menyeleweng dan oleh karenanya perlu mendapat ketentuan hukum.

Tentu saya tidak pada posisi untuk mengatakan bahwa pemerintah harus melarang Ahmadiyah. Itu adalah hak sepenuhnya pemerintah. Tapi mengundur-undur sebuah sebuah keputusan yang menyangkut isu sensitive hanya akan menambah ‘sensititas’ masyarakat, dan pada akhirnya akan mudah dikobar-kobari untuk terjadinya sebuah kekerasan semacam peristiwa Monas itu.

Akhirnya memang diperlukan sebuah ketegasan. Ketagasan yang boleh jadi tidak popular, tapi demi maslahat yang lebih besar perlu diambil. Jika tidak, gesekan-gesekan sosial (antar kelompok) yang setuju dan yang tidak setuju akan rentang untuk bertabrakan. Bahkan barangkali tabrakan ini tidak akan selalu disulut oleh isu Ahmadiyah itu sendiri, tapi juga oleh isu-isu lain, termasuk masalah-masalah lain. Masalahnya karena memang sudah terjadi sensitifitas yang tinggi di kedua belah pihak.

AKKBB versus FPI

Tanggung jawab langsung ada pada kedua pihak, AKKBB dan FPI. Dari penglihatan saya selama ini, kedua kelompok tersebut memang berada pada garis ujung ekremisme, non kompromistik dalam hal-hal yang mereka pandang. Anehnya, masing-masing pihak mengakui kebenaran mutlak, dan yang lainnya salah.

Selama ini banyak pihak yang secara sebelah menilai jika yang ekstrim itu hanya FPI dan yang sehaluan. Sebaliknya, mereka dengan enteng menilai bahwa AKKBB dan sekutunya justeru pembela moderisme dan kebebasan. Penilaian seperti ini sama sekali tidak ‘fair’ dan cenderung semakin memperuncing permasalahan, bahkan dapat dinilai sebagai unsur kengajaan untuk semakin menjadikan FPI dan yang sehaluan semakin marah.

Padahal, kelompok-kelompok liberal dengan berbagai penamaan itu juga berada pada ujung ektremisme yang nyata. Mereka sangat tidak kompromistik dalam melihat penafsiran-penafsir an yang berseberangan. Barangkali kejadian Monas adalah klimaks dari sikap mereka selama ini yang selalu menuduh pihak seberang sebagai sesat, kafir, licik, picik, berpikiran sempit dan semacamnya.

Bagi saya pribadi, sikap seperti ini adalah bentuk ekstrimisme dan intoleransi yang jelas. Dan oleh karenanya, ketika sikap intoleran berhadapan dengan sikap yang sama pada sisi berseberangan, di sanalah rentang terjadi tabrakan. Masing-masing mengakui kebenaran, dan kaku dalam melihat fenomena perbedaan pemikiran. Bahkan keduanya cenderung bersikap eogistik dan arogan.

Sangat menyedihkan, bahwa kelompok-kelompok liberal ini hampir saja tidak kedengaran suaranya di saat umat Islam terinjak-injak. Sebaliknya mereka bersuara lantang di saat-saat kelompok lain, dan bahkan nyata-nyata musuh Islam, sedang menghadapi kesulitan. Saya tidak tahu, apakah ini sikap yang memudahkan untuk mendapatkan pujian dari pihak-pihak yang lebih kuat dan besar? Allahu lebih tahu!

Solusi

Setelah persitiwa Monas terdengar nyaring di mana-mana seruan untuk membubarkan FPI. Di satu sisi, saya seringkali sedih dan tidak setuju dengan ‘cara’cara’ FPI dalam melakukan langkah-langkah ‘amar ma’ruf-nahi mungkar ’nya.

Di saat saya menyaksikan di berbagai media massa rekan-rekan dengan jubah dan sorban, tapi kemudian mengayung-ayungkan pedang dan tombak, dengan amarah, menampakkan kebengisan, tentu bagi saya bertentangan dengan hal-hal yang selama ini kita da’wahkan. Bahwa Islam itu ramah, berpendidikan, toleran, dan jika terpaksa melakukan tindakan ‘nahi mungkar’ dilakukan dengan cara-cara yang ‘ahsan’ (dialog, debat, dan jika perlu melalui proses hukum dan politik). Tapi dengan tindakan sendiri-sendiri dengan mengindahkan hukum yang ada, hanya memberikan persepsi yang buruk.

Namaun demikian, saya berani mengatakan bahwa adalah tidak ‘fair’ jika tuntutan pembubaran hanya ditekankan kepada kelompok FPI. Seharusnya kelompok-kelompok radikal yang berseberangan juga perlu dibubarkan, karena sesungguhnya eksistensi mereka ditentukan oleh eksistensi sebaliknya (radikal yang berseberangan) . Oleh karenanya, jika FPI dibubarkan, maka seluruh kelompok-kelompok liberal radikal harus pula dibubarkan.

Selama ada kelompok radikal di sebuah sisi, akan menjadikan tumbuhnya radikalisme di sisi lain. Ketika ada yang dengan enteng meremehkan dasar-dasar ajaran agama, tidak peduli dengan fondasi kebenaran, akan ada kelompok-kelompok lain pula yang terpanggil untuk membela. Sebaliknya, selama ada sikap-sikap non kompromistik dalam masyarakat, akan tumbuh pula kelompok-kelompok yang menamakan diri berjuang melawan sikap intoleran itu.

Pada akhirnya, semua kembali kepada ‘wisdom’ pemerintah. Jika permasalahan- permasalahan dalam masyarakat dibiarkan mengambang, berbagai penyelewengan ditanggapi dengan ‘wait and see’, maka boleh jadi kelompok-kelompok ekstrim itu, baik yang di sebelah kanan maupun kiri, akan mengambil alih penyelesaiannya.

Jadi, dengan peristiwa Monas ini, siapakah yang perlu disalahkan?

M.Syamsi Ali

New York , 3 Juni 2008

Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik “Kabar Dari New York” di www.hidayatullah.com


Gosip jalanan

April 12, 2008

……….

………..

Mau tau gak mafia di senayan

kerjanya tukang buat peraturan

bikin UUD ujung2nya duit

Pernahkah gak denger triakan Allahu Akbar

pake peci tapi kelakuan bar bar

ngerusakin bar orang ditampat2

Bukan membicarakan perseteruan DPR dengan slank…tapi…janganlah melakukan kekerasan dengan nama Tuhan! Bukan juga melarang orang menjadi “polisi moral” …..


Belajar Menjaga Komitmen

Maret 31, 2008

Pertama selalu memperbarui niat (mejaga niat awal). Memperbarui bukan berarti diinovasi tetapi direnovasi. Kedua, jangan merasa berjasa. Karena apa pun yang kita lakukan atas ridho Allah dan bantuan-Nya.Ketiga, menyadari sepenuhnya bahwa kita tidak dapat menolak| mengendalikan| peristiwa yang menimpa kita, yang dapat kita lakukan adalah mengontrol|membuat respon yang terbaik. Peristiwa positif atau pun negatif tetap harus direspon dengan sebaik mungkin.

Yaa …..Allah….

Lindungi hamba Mu ini dari kekufuran

lindungi dari bisikan dan kepungan setan yang terkutuk


AIDS, Kondom dan Maling

Desember 2, 2007

Membagikan kondom untuk mencegah terjadinya penyebaran AIDS terdengar sangat masuk akal. Mengajari berbuat sesuatu tapi tidak mau menanggung semua resiko yang mungkin ditimbulkannya. Pesan yang terbaca oleh saya: Amankan aktivitas sex Anda dengan kondom. Sex bebas, amankan dengan kondom.

Menurut logika ndeso saya, itu sama saja mengajarin orang menjadi maling. Mencurilah, asalkan jangan sampai ketahuan polisi. Maap kalau perumpamaan ini terlalu ndeso :)

Dengan membagikan kondom gratis dan melakukan seminar sana sini, semakin jelas pesan sponsornya, jelaslah.Kampanye ini juga merancukan antara peduli terhadap penderita AIDS dan bagaimana  mencegah terjangkitnya virus ini ke tubuh kita.

Saya mencoba merenungkan makna pembagian kondom ini, hasilnya: Menganggap saya, kita semua, pelaku sex bebas! Harus diamankan dengan kondom. Padahal kita tahu, fungsi kondom sebenarnya adalah alat kontrasepsi. Yang mana tidak ada sangkut-pautnya dengan AIDS. Belum lagi kalau kita bertanya seberapa kecil pori-pori kondom hingga dapat memfilter virus HIV?

Tulisan ini bukan berarti saya menutup mata dengan adanya sebagian masyarakat yang menggap sex pra-nikah bukan sesuatu yang terlarang,sesuatu yang biasa-biasa saja. Sungguh bukan itu maksud saya, saya mengakui dan menghargai mereka.Saya hanya merasa terganggu/merasa dibodohi, merasa ada tangan-tangan yang tak terlihat dibalik kampanye tersebut. Secara tersirat, menggiring kita ke arah fre sex yang katanya nikmat itu. hmm…

Salam hangat
Usamah