Aku Gay?

Desember 22, 2008

Chatting sama teman kuliah dulu yang lagi jadi programmer java di Jakarta. Menghasilkan kesimpulan yang rada memerihatinkan. Ketika saya kabarkan saya sedang proses merajut perkenalan dengan seseorang(wanita) untuk dijadikan istri, InsyaAllah(PeDe amit).

wes normal ta kowe?“, “wedhok atau lanang?” “be’e sik pancet hombreng” itu lah sederet pernyataannya dari si teman. Gila! Aku jadi mikir, jangan-jangan teman-teman pada nganggap aku gay, ya? Asal tahu saja, saya tidak pernah bergandengan tangan, bersms mesra, nonton bioskop bareng dengan lawan jenis ataupun sesama jenis. Berduaan dengan lawan jenis, di kelas,perpus atau kantin. Diriku jauh sekali dengan urusan jagat asmara . Itu kah yang mengundang kecurigaan dari teman-taman bahwa aku Gay?

Pertanyaannya adalah: kenapa saya gak pacaran? Terus terang, bukannya aku gak punya perasaan sama cewek atau apalah, tapi emang perasaan rendah diri akut telah merasuk ke dalam sel darah merah ku sehingga mempengaruhi system tubuh ini untuk melirik atau mengungkapan “cinta” kepada gadis sangat susah untuk dilakukan.

Alasan kedua adalah karena saya nganggap berpacaran itu hanya basa-basi untuk memuaskan nafsu belaka. Dan lagi yang paling mendasar mengapa saya TIDAK BERANI berpacaran karena saya menganggap hidup saya akan gagal jika saya berpacaran. Itu yang ada di benak saya. Gay kah saya?

Dan yang harus teman-teman ketahui adalah: Cinta itu tumbuh ketika telah menikah, karena di situ kita belajar menerima segala kekurangan di samping kelebihannya. Dan di situ terjadi dialektika antara dua insan yang berbeda karakter,keinginan,kebiasaan dan lain sebagainya menjadi satu kesatuan se-iya se-kata. Kesabaran kedua belah pihak akan diuji di bawah ikatan pernikahan.

Satu hal yang harus menjadi catatan teman-teman : benarkah hubungan relasi berlainan jenis sebelum menikah itu cinta atau sekedar “cinta”?

Tulisan ini tidak bermaksud defense apalagi offense, just coretan!

Wassalam
Usamah


Teror Plumpang

Oktober 27, 2008

Oleh: Fauzan Al-Anshari 

Isu terorisme kembali menyeruak setelah sekian lama sepi dari pemberitaan. Tertangkapnya sejumlah orang di Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang dituduh sebagai teroris oleh Densus 88 menimbulkan tanda tanya besar. Apalagi, konon, yang dijadikan target adalah Depo BBM di Plumpang. Pasalnya, penangkapan tersebut terjadi beberapa hari menjelang Jaksa Agung mengumumkan hari H eksekusi Amrozi cs. Ada apa di balik penangkapan itu. Benarkah mereka adalah teroris?

Bezuk Amrozi Cs 

Jumat, 17 Oktober 2008, saya bersama rombongan keluarga Amrozi dari Lamongan, keluarga Imam Samudera dari Serang, dan tim pengacara muslim (TPM) mengunjungi Amrozi cs di Lapas Batu, Nusa Kambangan. Di lapas, Amrozi cs sudah menunggu. Kami langsung bersalaman dan melepas kerinduan. Siapa pun yang melihat raut wajah ketiganya pasti tidak percaya bahwa tidak ada sedikit pun rasa takut akan datangnya hari H eksekusi tersebut. 

Malah, secara khusus mereka meminta kepada para pembesuk untuk menyampaikan klarifikasi yang menyangkut isu pancung. Mereka berkata bahwa tidak ada sedikit pun tebersit dalam hati mereka untuk memilih hukuman pancung atau apa pun terkait rencana eksekusi tersebut. Sebab, mereka berdalih, jika mereka memilih, berarti mengakui hukum KUHP yang disebutnya hukum thaghut (setan).

Karena itu, mereka menegaskan bahwa ajalnya tidak bergantung oleh eksekusi mati, hakim, atau siapa pun. Bahkan, hakim yang memvonis mati mereka sudah mati duluan. Sedangkan jaksa penuntutnya, yakni Urip Tri Gunawan, terlibat kasus suap Rp 6 miliar yang mencoreng nama Kejaksaan Agung. 

Mereka bertiga memberikan warning kepada eksekutornya, baik regu tembaknya maupun para petingginya sampai presiden SBY, bahwa mereka yang mendukung eksekusi tersebut hukumnya murtad dan akan di-qishosh (dibalas) oleh mujahidin dalam maupun luar negeri atau melalui tangan Allah SWT secara langsung.

Ketika saya tanya dalilnya, Mukhlas menjawab dengan mengutip pendapat Imam Ibnu Taimiyah. “Jika ada orang Islam membunuh orang Islam karena rebutan dunia seperti harta, tahta, atau wanita, hukumnya dosa besar. Sedangkan jika orang Islam membunuh muslim karena perjuangannya membela agama Islam, orang Islam itu jatuh murtad dan wajib dibunuh jika tidak bertobat. 

“Ancaman” mereka inilah yang langsung direspons petinggi polri. Tidak lama kemudian muncullah berita penangkapan “teroris” Kelapa Gading tersebut.

Target Aneh 

Saya heran mengapa Densus 88 langsung memvonis bahwa target utama kelompok Kelapa Gading adalah Depo BBM di Plumpang. Ini aneh karena baru kali ini sasarannya bukan aset atau kepentingan asing. Mengapa yang menjadi target berubah menjadi aset bangsa Indonesia yang sangat vital dan menyangkut hajat hidup orang banyak? 

Apakah ini rekayasa tuduhan keji atau pengalihan target agar masyarakat bertambah benci terhadap para tersangka itu? Ini “permainan” yang sangat berbahaya.

Saya heran, mengapa khusus kasus terorisme tersangkanya langsung divonis sebagai teroris? Padahal, yang berwenang menentukan dia itu teroris atau bukan adalah pengadilan. Inilah yang disebut trial by the public opinion.Yakni, memvonis seseorang itu sebagai bersalah melalui pembentukan opini, bukan lewat pengadilan. 

Perlakuan terhadap tersangka pun tampak sewenang-wenang seperti kaki terborgol. Bandingkan dengan koruptor Syamsul Nursalim yang mencuri uang rakyat Rp 47 triliun. Anaknya, Antoni Salim, justru diantar ke Istana SBY oleh Gories Mere dan Sutanto di atas karpet merah.

Pertanyaan pun bermunculan. Mengapa berita penangkapan itu muncul menjelang eksekusi Amrozi? Apakah hal tersebut kelak akan dimanfaatkan sebagai bukti bahwa “ancaman” Amrozi cs benar-benar akan dilaksanakan? Atau itu cuma sekadar sensasi untuk meraup kembali bantuan dolar Amerika? 

Apa Amerika masih sanggup membantu Densus 88 dan satgassus bom-nya dengan kucuran dolar untuk memerangi terorisme, sementara mereka sendiri sedang kolaps? 

Mengapa Nordin M. Top belum juga tertangkap? Apakah dia sudah ke Syiriah seperti yang pernah disampaikan Komandan Densus 88 Brigjen Suryadarma yang dimuat Assosiated Press (AP)? Padahal, susunan organisasi kepemimpinan Densus 88 terbilang paling lama tidak berubah. Goris Mere masih tetap mengontrol penuh pasukan khusus antiteroris tersebut walaupun dia kini menjadi Khalakhar BNN. 

Mengapa tidak ada tour of duty di organisasi kepemimpinan Densus 88? Mengingat masa kerjanya sudah lebih lima tahun, namun belum berhasil menangkap Nordin M. Top? Jadi, untuk apa Densus 88 dipertahankan kalau kinerjanya buruk?

Ancaman atau Proyek? 

Terorisme adalah proyek global AS untuk menguasai sumberdaya alam dunia. Melalui the global war on terrorism (G-WOT) Amerika membangun koalisi palsu untuk menghukum negara-negara yang tidak mau tunduk pada kepentingan AS. Afganistan dan Irak menjadi korban. Iran dan Syiriah akan menyusul diserang. Sedangkan Korea Utara sudah dicabut dari daftar the axis of evil karena telah mengikuti semua agenda AS.

Saya sempat mengatakan kepada Amrozi bahwa ancaman mereka bisa dimanfaatkan agen AS untuk membangun kembali isu terorisme yang akhir-akhir ini mulai pudar seiring runtuhnya hegemoni AS. 

Jika benar eksekusi nanti terlaksana lalu ada “pembalasan” seperti pengeboman atau ditemukannya sejumlah bahan peledak, saya yakin itu akan dikaitkan dengan Jamaah Islamiyah dan sangat mungkin akan kembali dikaitkan dengan Ustad Abubakar Ba’asyir. 

Bila tidak ada “pembalasan”, itu pun akan dimanfaatkan untuk membuat “pembalasan” palsu yang diatasnamakan sebagai bukti balas dendam mereka. Dunia memang penuh intrik.

Sekali lagi, isu terorisme adalah proyek AS untuk menguasai dunia. Secara sederhana, Mukhlas menjelaskan kepada para pembesuk bahwa teroris itu ada dua. Pertama, teroris yang baik, yaitu kami (Amrozi cs) karena kerjanya menakut-nakuti musuh Islam.

Kedua, teroris buruk, yakni Amerika dan sekutunya yang suka mengancam dan menakut-nakuti orang Islam yang mau menegakkan syariatnya. Sekarang tinggal pilih, mau ikut Amerika atau “teroris”?

Fauzan Al-Anshari , direktur Lembaga Kajian Strategis Islam


AKU

Oktober 18, 2008

Aku,aku bukan kamu,sebuah identitas? Aku, bagi sebagian orang adalah tabu untuk diucapkan. Apalagi yang berkaitan dengan hasil pekerjaan,hasil perjuangan, hasil rintisan, dlsb.

Jadi, ketika masih muda, berusahalah mengenali gejala “ke-aku-an” sebelum tumbuh mengakar di jiwa mu! Kenali dan bunuh lah dia!


Kutipan Hari Ini

Juli 25, 2008

Anehnya para tokoh LSM di Indonesia masih bersedia menerima guyuran dollar dari pemerintah yang tangannya berlumur darah. Sama anehnya, Presiden SBY bisa ditekan dalam soal HAM oleh anggota Kongres Amerika yang sebenarnya harus bertanggung jawab dalam penyerangan Iraq dan penjara Guantanamo.

Amran Nasution, Penulis Direktur Institute for Policy Studies.


Atas Nama Bela Negeri

Juli 10, 2008

Bolehkah estetika abai etika? Ini memang bukan tentang pornografi. Secara normal, saya tidak dapat menghubungkan pariwisata dengan berbikini atau memang otak saya yang dangkal. Yang konon katanya acara ini salah satu usaha memajukan pariwisata di Indonesia.

Kalau kita bertanya lebih kritis lagi: Bangga kah rakyat Indonesia jika sang puteri menang? …hanya pertanyaan katrok.

Sesungguhnya alasan seni hanya kedok, jika boleh jujur, alasan utamanya tetap ekonomi!

Padahal, wanita adalah alat utama kapitalis menjejakkan kakinya dalam suatu negeri. Wanita adalah “Evangelist” pemasaran produk-produk hedonisme. Perhatikan saja, hampir tidak ada iklan yang yang tidak dibintangi oleh wanita.

Postingan katrok ini bukan untuk menyerang, sekedar berpendat. No offense!

Note: Gambar diambil dari surya.co.id dan telah saya brush.
Mudah-mudahan isu “sang puteri” pindah kuliah dari ITS ke london school benar adanya.


Quote of The Day #part 2

Juli 9, 2008

Mestinya, kalau betul Presiden SBY menjalankan politik luar negeri bebas aktif, Kongres Amerika itu harus diberitahu bahwa tangan mereka berlumuran darah orang Iraq. Karena persetujuan merekalah Presiden Bush bisa menyerbu Iraq. Karena persetujuan mereka pula sampai sekarang penjara Guantanamo masih kukuh berdiri. Anggota Kongres kayak begitu kok mau bicara HAM, apalagi menekan seorang Presiden negara berdaulat. Kenyataannya itu terjadi.

–Amran Nasution–adalah Direktur Institute for Policy Studies


Siapakah teroris itu? #Part 2

Juli 4, 2008

Siapa yang berhak menjustifikasi seseorang itu teroris atau bukan? Apakah Densus 88 Antiteror?

Mengapa orang yang dianggap teroris itu nama-namanya berbau Islam? Ada apa di balik semua itu? Mengapa GPK (di Papua) atau RMS (di Ambon) tidak pernah dianggap teroris?? Padahal jelas sekali aksi mereka! Ini bukan pertanyaan bodoh, sekedar ingin keluar dari hegemoni pemberitaan yang berat sebelah. Saya baca atau lihat berita masih terdapat perkataan yang masih berbau pendapat/opini, seperti :konon katanya…, diduga…., dsb. Apakah itu sudah menjadi fakta??

Sekedar catatan, Densus 88 Antiteror itu adalah bentukkan AS. Dan mereka yang diduga teroris itu orang2 yang kritis-jika tidak mau dikatakan antipati-  terhadap kebijakan-kebijakan AS.

Lihat saja Munarman, Ust. Abu Bakar, Habib Riziek dlsb. Apa yang diperjuangkan Munarman? Cari tahu sendiri lah :d

Dan yang terakhir, kasus di Sumatera Selatan…..

Jangan2 media massa, polisi dlsb sudah menjadi kaki-tangan kapitalis di negeri tercinta ini?? :(

Ayo, sama-sama keluar dari Illusions of opinion of mass-media!! (* Apa yak artinya? Maklum baru belajar english tingkat FUNDATION* ) Jangan mau kita didikte oleh mass media  yang sarat kepentingan..please!

Benar-benar dagelan politik yang luar “BINATANG” gak lucunya.


Siapa terorist itu? #Part 1

Mei 16, 2008

Okezone:Waspadai Ancaman Al-Qaeda!

Salah satu pesan yang terdeteksi oleh dinas keamanan Swiss berbunyi: “Mari ubah dua negara teraman di Eropa ini menjadi neraka -Seperti neraka di Irak atau Afghanistan.”

kompas.com:Al Qaeda Ancam serang Euro 2008

La Liberte memberitakan, dalam sebuah forum di internet memang muncul ancaman dari Al Qaeda. Mereka akan menjadikan Swiss dan Austria sebagai neraka

Untuk okezone: Siapa yang membuat neraka di Afganistan dan Iraq?siapa yang menghancur leburkan ke 2 negara terbut?? what a fucking news! dan untuk kompas: Forum apa itu?apakah validitasnya terbukti?

Wartawan koq kayak tukang gosip. Beritanya gak valid. Eksistentsi Al Qaida aja masih debatable!